03 April 2009

Pemadaman listrik di Sultra

Pemadaman listrik di Sultra, masih harus menunggu lama. Bahkan pemerintah baru memastikan listrik normal tahun 2010 nanti. Itupun setelah PLN memiliki pembangkit tambahan di Soropia. Hal ini diungkapkan Sekretaris kementrian Negeri BUMN RI, Dr.M.Said Didu.
Saat ditemui sebelum membuka acara sosialisasi kebijakan BUMN kepada sejumlah BUMN di Sultra, Said Didu mengatakan, untuk membangun pembangkit tambahan di Sultra tidak mudah. Namun membutuhkan proses yang tidak singkat. "Membangun pembangkit itu tidak semudah membalikkan tangan," terangnya yang didampingi Kepala Cabang PLN Kendari, Fauzi Arumbusman.
Pemadaman yang terjadi menurut Said bukan karena BBM. Tapi memang pembangkit yang sudah tidak mampu memproduksi daya yang dibutuhkan. Apalagi dengan kenaikan BBM nanti, tidak akan perpengaruh dengan PLN. Pasalnya berapapun kebutuhan bahan bakar listrik akan tetap disubsidi. Seperti untuk Sultra total cost produksi Rp 5500 pe KWH. Sementara PLN menjual ke masyarakat hanya Rp 2.800. "Selama ini PLN merupakan BUMN yang selalu rugi, makanya kalau ada pemadaman jangan selalu menyalahkan PLN," belanya.
Said juga sedikit menyentil tentang rencana kenaikan BBM, untuk industri tetap tidak ada kenaikan, yang naik hanyalah BBM bersubsidi seperti premium, solar dan minyak tanah. Kalau untuk BBM industri tetap harga internasional.
Selain memberikan sosialisasi, Said jugamemberi suport kepada sejumlah BUMN di Sultra. Seperti perusahaan Damri, akan segera di serahkan ke Pemda. "Pusat sudah malas mengurus masalah bus. Biarlah bus yang urus daerah saja," katanya.
Beberapa BUMN yang sudah diberi kelonggaran seperti Jamsostek, yang mana tahun ini pemrintah sudah tidak menarik deviden. PT Askes diminta untuk tidak berbelit - belit dalam melayani masyarakat. Serta beberapa warning kepada perusahaan BUMN, khususnya sejumlah asuransi yang diminta untuk berhati-hati, entah apa alasannya dia memberikan intruksi tersebut.
Kemudian dia juga menyentil keberadaan perbankan BUMN. Kalau BRI dipuji karena sebagai salah satu BUMN yang memberikan untung terbesar. Demikian untuk BNI dan beberapa bank berplat merah lainnya, diharapkan untuk bisa merubah karakter.Baginya mereka jangan hanya bertindak sebagai pihak yang ingin dikunjungi. Tapi seharusnya bank bertindak sebagai banker, yakni melakukan jemput bola kepada masyarakat. "Ubahlah budaya yang sudah ada. Tugas bank itu melayani nasabah, maka jangan hanya melayani orang - orang tertentu saja," katanya.
Sebelum memberikan sosialisasi Said dan sejumlah rombongan telah mengunjungi PT Antam di Kolaka. Dia juga sempat memberikan wejangan kepada PT Antam dalam forum sosialisasi tersebut, yakni terkait keberadaannya di tanah Sultra. "Saya sarankan kepada PT Antam untuk berhati-hati dalam mengambil aset daerah, jangan sampai ada permasalahan nantinya," katanya. (lis/awl)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar